Semu, itulah kata-kata yang terlintas di otak ini ketika aku membayangkan sosokmu,
Logika ini seakan beradu argumen dengan kalbu seperti kedua kubu ingin memenangkan pembenarannya,
Logika ini berkata "Heiii, betapa bodohnya kamu bisa terbuai dengan dengannya, padahal dia tidak melirikmu sama sekali"
Sedangkan, lain halnya dengan kalbu ini "Jangan pernah dengarkan logikamu jika berurusan dengan perasaan, logikamu hanyalah sekumpulan syaraf yang hanya mengerucut pada penalaran"
Akupun hanya bisa berdiri dengan lidah yang kaku tanpa ada kata yang terucap ketika aku melihatmu,
Kau adalah sosok yang begitu anggun dimataku, sampai mata inipun tak berani menghadap lurus diwajahmu,
Kau tidak cantik, tapi kau memancarkan pesona yang menawan dimata setiap lelaki,
Duhai kekasih, sungguh hati ini ibarat ladang tandus yang mengaharapkan siraman air surga darimu,
Sungguh tanaman cinta ini membutuhkan pupuk surga darimu agar menjadikannya pohon yang kuat akarnya dan rimbun daunnya sehingga cinta ini dapat menjadi peneduh untuk untuk hidupku"
-End
Sabtu, 05 April 2014
Minggu, 29 September 2013
Kisah Salman Al Farisi Melamar Wanita
Salman Al Farisi memang sudah waktunya
menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi
shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai
kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan yang dirasa tepat.
Pilihan menurut akal sehat. Dan pilahan menurut perasaan yang halus, juga
ruh yang suci.
Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini.
Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa.
Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya.
Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang
pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi
Madinah berbicara untuknya dalam khithbah. Maka disampaikannyalah gelegak hati
itu kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abud Darda’.
”Subhanallaah..
wal hamdulillaah..”, girang Abud Darda’ mendengarnya. Mereka tersenyum
bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah
kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah
dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.
”Saya adalah Abud Darda’, dan ini adalah
saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan
dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki
kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai
beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara
saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abud Darda’ bicara
dalam logat Bani Najjar yang paling murni.
”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan
rumah, ”Menerima anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah
kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang
utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.”
Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri
menanti dengan segala debar hati.
”Maafkan kami atas keterusterangan ini”,
kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya.
”Tetapi karena anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya
menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abud Darda’
kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan
jawaban mengiyakan.”
Jelas sudah. Keterusterangan yang
mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik kepada
pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Tapi saya juga
mengatakan indah karena satu alasan; reaksi Salman. Bayangkan sebuah perasaan,
di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan
sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia
memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia
bicara.
”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua
mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abud Darda’, dan
aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”
♥♥♥
Tak mudah menjadi lelaki sejantan Salman.
Tak mudah menjadi sahabat setulus Abud Darda’. Dan tak mudah menjadi wanita
sejujur shahabiyah yang kelak kita kenal sebagai Ummud Darda’. Belajar menjadi
mereka adalah proses belajar untuk menjadi orang yang benar dalam menata dan
mengelola hati. Lalu merekapun bercahaya dalam pentas sejarah.
Sabtu, 28 September 2013
Stag
tak tau lagi lidah ini harus berucap apa,
semua kaku tak berdaya
ketika sang bulan menampakkan cahayanya
cahaya sayu tertutup awan cumulus
hati ini seolah bergetar
mengisyaratkan rasa yang telah lama tidur
wahai engkau purnama
mengapa cahayamu terasa menyejukkan hati
semua berawal dari ketidaksengajaan
entah berawal dari mana
karena aku sendiri tak tau ujung awal kisah ini
semua seperti sengatan listrik yang terhantar melalui sepotong besi
Senin, 23 September 2013
Alangkah Lucunya Negeri Ini
entah sampai kapan semua berakhir,
bayangan semu ini selalu mengejar melewati batas,
realita dan rekayasa berpadu menjadi satu,
membentuk artian yang penuh dengan ambigu,
entah sempai kapqn semua berakhir,
ketaatan kita kepada pemimpin dzalim,
batas moral dan etika perlahan hilang,
luntur tanpa dikenang,
entah sampai kapan semua berakhir,
paksaan pemahaman yang selalu datang,
bukankah negeri ini negeri demokrasi??
dimana semua bebas beraspirasi,
entah sampai kapan semua akan berakhir,
hidup miskin di bumi pertiwi,
betapa sedihnya sukarno bila melihat ini,
harta bumi pertiwi dikeruk luar negeri,
bayangan semu ini selalu mengejar melewati batas,
realita dan rekayasa berpadu menjadi satu,
membentuk artian yang penuh dengan ambigu,
entah sempai kapqn semua berakhir,
ketaatan kita kepada pemimpin dzalim,
batas moral dan etika perlahan hilang,
luntur tanpa dikenang,
entah sampai kapan semua berakhir,
paksaan pemahaman yang selalu datang,
bukankah negeri ini negeri demokrasi??
dimana semua bebas beraspirasi,
entah sampai kapan semua akan berakhir,
hidup miskin di bumi pertiwi,
betapa sedihnya sukarno bila melihat ini,
harta bumi pertiwi dikeruk luar negeri,
Jumat, 20 September 2013
Fajar
Sang fajar telah tiba dari ufuk timur,
Entah mengapa tubuh ini merasa sangat bergairah menerima kehadiranmu
Melentangkan kedua tangan dan menghela nafas panjang
Sang fajar,
Entah mengapa sinarmu selalu membawa kehahatan
Membawa hati ini merasa nyaman,
Menerbangkan rasa ini jauh ke dalam angan-angan dunia
Membawa jiwa ini untuk selalu merasakan jiwa muda
Sang fajar,
Entah mengapa perjumpaan denganmu terlalu singkat
Tidak seperti siang ataupun malam
Perjumpaan denganmu adalah suatu keberuntungan,
Keberuntungan bagi ingsun ingsun yg mau menyambutmu
Puji syukurku kupanjatkan pada-Mu
Terima kasih atas segala nikmat fajar ini Ya Rabb
Rabu, 18 September 2013
Untuk 4 Wanita Spesialku
Teruntuk 4 wanita spesialku,
entah mengapa doa malam ini cukup bisa meneteskan
air mata ini meskipun hanya dalam pengharapan...
Untukmu wanitaku yg pertama,
saya tidak akan pernah lupa nazar telah ku ucap di depan wanitaku yg kedua
Untukmu wanitaku kedua,
aku tidak akan membiarkanmu merasa terbebani dengan masalah dunia ini,
aku akan selalu disampingmu utk membantu
Untukmuwanitaku ketiga,
aku akan selalu mendukungmu dari belakang,
karena aku yakin engkau adalah wanita yg kuat nan cerdasss
Untukmu wanitaku keempat,
ku akan selalu dsampingmu, mnjagamu,
menyayangimu dan mendukungmu
seperti ketiga wanitaku sebelumnya smpai akhir hidup ini
entah mengapa doa malam ini cukup bisa meneteskan
air mata ini meskipun hanya dalam pengharapan...
Untukmu wanitaku yg pertama,
saya tidak akan pernah lupa nazar telah ku ucap di depan wanitaku yg kedua
Untukmu wanitaku kedua,
aku tidak akan membiarkanmu merasa terbebani dengan masalah dunia ini,
aku akan selalu disampingmu utk membantu
Untukmuwanitaku ketiga,
aku akan selalu mendukungmu dari belakang,
karena aku yakin engkau adalah wanita yg kuat nan cerdasss
Untukmu wanitaku keempat,
ku akan selalu dsampingmu, mnjagamu,
menyayangimu dan mendukungmu
seperti ketiga wanitaku sebelumnya smpai akhir hidup ini
Kamis, 27 Desember 2012
Keluhan Soal Rumor KPK Akan Dibubarkan
Untuk anggota DPR, kalian adalah wakil rakyat yang seharusnya mewakili suara rakyat, bukanlah wakil yang mewakili suara kalian sendiri. kenapa kalian harus takut dengan KPK kalau kalian tidak bersalah. Menurut saya dan sebagian besar rakyat Indonesia sangat setuju mengenai penyadapan terhadap para anggota DPR dan pejabat instansi lainnya, karena dengan demikian dapat terjadinya kontrol agar tidak ada tindakan penyelewengan dana (korupsi). Ingat, kepentingan rakyat harus diutamakan daripada kepentingan kalian.
KPK dimata rakyat Indonesia merupakan institusi yang memiliki kinerja yang bagus dalam melakukan tugasnya. Tidak seharusnya institusi itu diberi batasan dalam melakukan tugasnya. Hanya orang (Pejabat) kotor sajalah yang takut dengan KPK.
mungkin ini sebagian kecil keluhan saya sebagai WNI,
Wassalam... :)
Langganan:
Postingan (Atom)